Kisah Ki Soma Kepakisan
Ki Soma Kepakisan, seperti di ceritakan dalam Parampara Paiketan Paguron Suling Dewata adalah saudara seperguruan dari Ki Dipa ( Gajah Mada, Mahapatih gajahmada ), mereka berdua adalah murid dari Sesepuh Generasi ke III Ki Hanuraga , ketika beliau berkelana mengelilingi Nusa Ning Nusa, berikut beberapa petikan dalam parampara perguruan :
Diceritakan Dipa dan Soma setiap hari berlatih siang dan malam tidak mengenal bosan dan tidak mengenal lelah,kian hari ilmunya semakin meningkat pesat keduanya saling mengawasi selama latihan,saling memperbaiki esalahan,berlatih dan terus berlatih, Tanpa terasa dua tahunan Dipa dan Soma berlatih bersama tanpa bimbingan langsung dari Eyang Wungkuk ( KI Hanuraga),ilmunya telah meningkat puluhan kali lipat dari sebelumnya.setelah berlatih mereka duduk istirahat berdua dengan santai. Soma memulai bicara mengeluarkan idenya,Dipa saya telah menyiapkan sebuah Goa tempat berlatih yang aku namakan “ Goa Kepakisan “ sesuai dengan namaku “ Soma Kepakisan”, kita masuk goa dan berlatih disana tidak keluar goa selama hidup kita agar ilmu kita sempurna. Dengan begitu selain ilmu kita sempurna kita terjamin tidak merusak Perguruan dan Pertapaan yang ada di Gunung Watukaru Bali,terus terang saja ngeri aku membayangkan peringatan dai Maha guru kita , Wahai saudaraku Soma aku justru punya pendapat lain Ilmu yang kita miliki harus kita amalkan agar berguna bagi nusa dan bangsa khususnya dan seluruh umat manusia di dunia, aku justru ingin mengajak saudara Soma mengabdi di kerajaan kalau kita terkenal menjadi penjabat yang baik Perguruan kita akan bangga pada kita berdua. Dipa,ingat pesan Mahaguru kita harus selalu bersama,saling mengawasi saling mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan baru dua tahun jauh dari guru kita sudah berbeda pendapat kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan melalui pertarungan sekaligus menguji diri, yang kalah harus mengikuti ajakan yang menang jika aku kalah , aku akan mengikutimu mengabdi di kerajaan, tapi jika engkau kalah harus mengikutiku bertapa Bertapa seumur hidup di dalam Goa Kepakisan, sambil berlatih dan terus berlatih sampai ilmu kita sempurna seperti mahaguru,sehingga jika suatu saat berjodoh bertemu kembali dengan Mahaguru,maka ilmu kita sudah sempurna seperti beliau,dan beliaupun bangga pada kita sebagai muridnya. Disepakati berrsama antara DIPA dan SOMA bersiap-siap melatih diri selama 1 bulan dan bulan depan kita bertarung menentukan siapa yang lebih unggul diantara murid Mahaguru Eyang Wungkuk dan jangan lupa akan taruhan yang kita sepakati bersama.
Di pagi yang cerah diwaktu yang telah disepati bersama antara DIPA dan SOMA,keduanya sudah sama siap dan pertarunganpun dimulai tanpa orang ketiga sebagai penengah Pertarungan demi pertarungan,semua macam ilmu yang dipelajari dikeluarkan semua namun dari awal sampai akhir setelah satu hari satu malam ternyata mereka berdua sama kuat Dipa dan Soma keduanya tersenyum sambil napas masih tersengal-sengal,Soma lebih dulu berkata “ Bagaimana Dipa –ternyata tenaga dalam,tenaga bathin dan ilmu silat kita berimbang sama kuat “belum kita sepakati sebelumnya Apa kamu tetap ingin mengabdi di kerajaan ?“.Jika engkau tetap ingin mengabdi aku tidak melarang, sedangkan aku sendiri bertapa seumur hidupku Sekarang terserah engkau Kekuatanku tidak cukup untuk memaksamu mengikuti kehendakku,sebelum engkau pergi mengabdi dikerajaan,marilah kita pergi ke Goa Kepakisan,aku minta tolong,apakah tenaga dalam gabungan kita mampu menghancurkan pintu goa yang telah kurancang sangat kuat untuk menahan agar tidak bisa keluar lagi. Dipa dan Soma bersama menuju Goa Kepakisan Sesampainya disana Dipa dan Soma mengerahkan Segenap tenaga dalamnya digabungkan untuk menggempur pintu goa,namun sampai 3 kali dipukul tidak mampu menghancurkan pintu goa kepakisan.Soma berkata, selamat jalan saudaraku aku segera masuk goa dan menutup pintu dan tidak keluar lagi selamanya.
Mengurung diri dalam Goa
Di dalam sebuah Goa Yang dinamakan “Goa Kepakisan“ Didalamnya ada seorang pertapa sakti sedang Menggembleng diri,setiap saat terdengar deru pukulan dan getaran Getaran hawa pukulan dasyat yang menggetarkan areal disekitar Goa tersebut. Pertapa sakti ini bernama “ Soma Kepakisan” Saudara seperguruan Dipa atau Gajah Mada Mahapatih Majapahit.
Soma Kepakisan Setiap hari berlatih di dalam Goa kepakisan tanpa mengenal henti,mengulang pelajaran Tanpa henti,tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelaah,berlatih dengan serius dan bersemangat,begitulan “Sesanti Perguruan” Yang dijadikan pegangan dalam menggembleng Diri dan menyempurnakan Ilmunya. Tanpa terasa Beberapa puluh tahun telah terlewati, Ilmu yang dilatihnya menjadi bertambah sempurna.Betul Wejangan Eyang Wungkuk (Hanuraga) gurunya itu,bahwa ilmu yang dikuasainya selama ini hanya kulitnya saja dan masih bisa Dilatih dan disempurnakan sehingga kehebatannya Puluhan,ratusan bahkan ribuan kali Lebih hebat dari sebelumnya.
Bertemu kembali dengan Sang Maha Guru
Sekarang kemampuan Soma Kepakisan tanpa disadari telah Meningkat pesat puluhan kali lipat dari sebelumnya,suatu ketika Soma Kepakisan ,ingin mencoba hasil latihannya dengan Memukul pintu Goa kepakisan,siapa sangka begitu Dipukul pintu Goa hancur berkeping Dalam sekali pukul. Soma kepakisan, Tidak menyadari bahwa ilmunya Sekarang telah meningkat 10 kali lipat Dari sebelumnya.Gabungan tenaga Soma dan Dipa saja tidak Mampu memecahkan batu penutup Goa,sekarang dia sendiri mampu melakukannya dengan mudah,akhirnya Soma Kepakisan Melangkah keluar goa sambil berguman Goa kepakisan tidak mampu Mengurung dirinya Selamanya. Soma Kepakisan Merindukan 2 orang antara lain Gurunya Eyang Wungkuk,dan Dipa saudara Seperguruannya.Namun rupanya kerinduan kepada Sang Guru Lebih kuat,sehingga Soma Kepakisan mulai melangkah ketimur yang ditujunya adalah Gunung Watukaru,Pertapaan Candra Parwata dimana gurunya sebagai Sesepuh Generasi III , dia ingin bertemu Gurunya untuk menyempurnakan ilmunya. Karena ketidak tahuan Dimana letak Gunung Watukaru Secara tepat ataukah ini merupakan sebuah takdir Hyang Widhi,ternyata perjalanan Soma Kepakisan kebablasan melewati,Gunung Watukaru,sampai jauh kebagian timur Bali Dwipa.
Mengambil Kebo Iwa sebagai murid
Disuatu tempat ia bertemu seorang Anak berbadan tinggi besar dan bertenaga Raksasa, luarbiasa kuatnya. Anak ini bernama Kebo Yuwa ( Kebo Iwa),ia sangat disegani Oleh temannya baik anak kecil maupun dewasa Karena ia memiliki tenaga sangat kuat,disamping bertubuh tinggi besar. Dengan kelebihannya,ia sering dan terbiasa memaksakan Kehendak pada orang lain,tapi ia berjiwa Ksatria,jujur,taat pada ucapan. Tidak mau ingkar janji. Soma Kepakisan Melihat Kebo Iwa ini memiliki Bakat luar biasa dalam belajar ilmu olah kanuragan, Kadigjayaan.akhirnya Soma Kepakisan mendekatinya dan ingin mengangkatnya sebagai murid.Namun Kebo Iwa rupanya sombong dan angkuh,ia merasa sudah sangat kuat dan tidakmau Berguru kepada siapapun Soma Kepakisan Akhirnya berpikir,harus menundukkannya Dengan menunjukkan sedikit kehebatan dihadapan kebo Iwa. Pertama Kebo Iwa,sudah biasa menang taruhan tarik tambang meski satu lawan sepuluh dengan temannya.Dan Soma kepakisan Mampu mengalahkannya dengan mudah,yaitu dengan Menyalurkan hawa panas ditali menyebabkan Kebo Iwa tidak kuat menahan Panas dan melepas tali yang dipegangnya Kebo Iwa punya Ayam Jago yang tak pernah kalah Dalam adu ayam,kalau mampu mengalahkan ayamnya Dalam adu ayam ia mau berguru,Soma Kepakisan dapat mengalahkan dengan ayam biasa,tentu saja dengan sedikit kecurangan Melukai ayam Kebo Iwa dengan sentilan jari Sakti sehingga ayam Kebo Iwa Tiba-tiba roboh dan kalah. Akhirnya Kebo Iwa Menjadi murid Soma Kepakisan, Diajarkan seluruh ilmu yang dimilikinya Mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi.Ilmu keistimewaan Yang disenangi kebo Iwa adalah “ Ajian Belah Batuh” suatu Ilmu untuk memecah benda keras.dan ilmu ini Dilatih dengan lebih tekun dari Ilmu lainnya. Setelah menurunkan Semua ilmunya,akhirnya Soma Kepakisan Memerintahkan agar Kebo Iwa yang sudah mampu Memecahkan batu sungai dengan sekali pukul.Agar ia memecahkan semua Batu yang ada disungai tempai ia berlatih,selanjutnya ia harus Membangun sebuah Pura dari batu yang ia pecahkan Sebagai ujian akhir.dan agar menamakan pura Yang dibangunnya dengan nama Pura belah batuh.
Dipagi yang cerah. Soma Kepakisan sedang duduk bermeditasi Disebuah batu besar yang ada di sungai,sementara Kebo Iwa,sedang asik memecah batu dengan ajian Belah batuhnya,tiba-tiba Ada bayangan kuning berkelebat,tahu-tahu dihadapan Soma Kepakisan berdiri sesosok tubuh Yang tiada lain Eyang Wungkuk (Hanuraga) Anakku Soma Kenapa engkau ada disini, Dimana saudaramu Dipa.Soma kepakisan Melihat kehadiran gurunya yang memang sedang dicarinya Merasa sangat senang,lalu segera ia berlutut menyentuh kaki gurunya Yang dinamakan “ Pada Sewanam” sebagai tradisi perguruan. Guru hamba sedang menuju Watukaru mencari Guru,sedangkan Dipa Mengabdikan ilmunya di Wilwantikta ( Kerajaan Majapahit). Soma ,aku Baru saja akan pulang dari Pengembaraan sekarang sedang menuju Watukaru di barat sana. engkau telah salah arah,Watu karu Ada disebelah barat sana.Guru aku akan ikut Guru ke Watukaru agar dapat melayani Guru serta menyempurnakan ilmu yang murid latih. Belum tiba saatnya Engkau datang ke Watukaru, Aku ingin engkau kembali ke Jawa Dwipa Untuk mengawasi dan membimbing Dipa agar tidak merusak Nama perguruan,bila perlu kau bantulah Dipa dalam mencapai cita-citanya aku melihat takdirnya mempersatukan seluruh Nusantara yang akan membuat dirinya dikenang disepanjang jaman serta Mengharumkan trah watukaru dikemudian hari.
Kembali Ke Jawa Dwipa
Soma Kepakisan Memanggil muridnya Wahai anakku Kebo Iwa kemarilah, anak yang berbadan tinggi besar segera dating mendekat dan berlutut dihadapannya.Wahai anakku Guru hanya sampai disini bisa membimbingmu,Guru harus segera pergi ke Tanah Jawa,yang berdiri disebeh ini adalah Guru dari Gurumu,Beliau adalah Kakek Gurumu,tanpa diminta Kebo Iwa segera “Pada Sewanam” menyentuh Kaki Guru Ki Hanuraga. Ingat tugasmu ,memecahkan batu yang Ada di sungai ini,dan dirikanlah Pura sebagai ujian akhir.
Sementara itu Soma Kepakisan menuju ke barat Ke Jawa Dwipa,langkahnya tertuju pada Kerajaan Wilwantikta atau Majapahit dimana Dipa mengabdikan dirinya Ketika sampai dialun-alun depan Istana .Soma Kepakisan melihat ada banyak Prajurit menjaga keamanan Istana.Soma Kepakisan Menanyakan keberadaan Dipa sekaligus mohon diijinkan Bertemu.Dua prajurit tersinggung ada orang Berani memanggil nama langsung Mahapatih Maka langsung Soma kepakisan Ditangkap. Namun kedua prajurit Yang menangkap Soma Kepakisan Terpental dan menjerit kesakitan,hal ini Menarik perhatian prajurit yang lain,datanglah 11 orang Prajurit mengurung ingin menangkap Soma Kepakisan,semuanya terpental Sambil menjerit kesakitan.Tiba-tiba muncul 33 orang prajurit baru Mengurung dan menangkap Soma Kepakisan,semuanya dalam Waktu sungkat bergulingan diatas tanah namaun Tidak ada yang meninggal,hanya luka Luka,Tiba-tiba datang 100 Orang Prajurit. Soma Kepakisan sekarang Dikurung oleh 100 orang prajurit, namun Tidak berhasil menangkapnya,siapa yang memegang terpental Terguling-guling ditanah mengaduh kesakitan,dalam waktu singkat 100 prajurit telah terkapar ditanah,segara datang 500 Prajurit Karena suasana tambah ribut,seorang bekel prajurit Memberanikan diri menghadap Mahapatih Gajah mada,melaporkan kejadian Dialun-alun depan istana. Ketika Gajah Mada Dengan langkah lebar berjalan ke Alun-alun,Dari 500 prajurit hampir 300 orang sudah terkapar Di tanah.
Ketika dari jauh mengamati keributan betapa terkejutnya Gajah Mada bahwa yang dikurung adalah saudara seperguruannya Soma Kepakisan.Maka secepatnya Gajah Mada memerintahkan Agar semua prajurit Bayangkara mundur sambil Mengangkat teman yang terluka,Gajah Mada Sendiri lari ke tengah alun-alun Saling berangkulan satu Sama lain. Bagaimana kabarmu Dipa Dan Bagaimana kabar kakang Soma.Akhirnya Keduanya duduk ditanah di tengah alun-alun tidak memperdulikan Prajurit yang bengong kebingungan,akhirnya satudemi satu Prajurit ditarik mundur untuk mengobati dan mengatur kembali petugas Pengamanan istana Majapahit.Tanpa disadari keduanya Sibuk bercerita sampai senja tiba.
Komentar
Posting Komentar